Pages

Wednesday, November 26, 2014

Masalah Sampah di Kota Biak

Sampah di Pasar Darfuar
Menurut Jokowi, Presiden RI yang baru dilantik ini mengatakan, kondisi lingkungan di Kota Biak memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Lingkungan kota yang penuh dengan sampah menumpuk ini merupakan masalah yang serius. Tumpukan sampah yang paling parah terdapat di Pasar Darfuar Biak. Pasar yang menjadi kebanggaan masyarakat Biak ini adalah pasar yang dibangun representatif oleh pemerintah daerah (pemda) dengan menelan dana puluhan miliar rupiah. Namun sejak dioperasikan, semakin ditinggalkan pemda. Sepertinya walau masih baru sekitar tiga tahun beroperasi, pasar ini sudah tidak pernah diperhatikan. Sampah tidak pernah diangkut oleh petugas kebersihan. Padahal hal ini sangat menganggu aktivitas ekonomi di pasar tersebut dan tentunya mengganggu masalah kesehatan pedagang.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Biak, Papua, Simon Rumpaisum mengatakan, salah satu bentuk perhatian yang diberikan kepada pembangunan di Kota Biak yakni melakukan sosialiasi penyadaran untuk membangun kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat sampah yang disiapkan. Selain itu, perhatian lain yang diberikan adalah mendorong terbuatnya sebuah regulasi tentang kebersihan yang di dalamnya juga mengatur soal waktu dan tempat membuang sampah serta sanksi yang diberikan kepada warga yang membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempat sampah.

Lalu apa yang dilakukan masyarakat Kota Biak dalam menangani masalah sampah ini?

Keterlibatan warga Kota Biak, dalam membantu pemerintah daerah untuk menciptakan dan menjaga kondisi di wilayah lingkungan kampung serta kelurahan agar tetap bersih sangat berpengaruh. Aksi ini didukung Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI melalui Dana Alokasi Khusus 2013 yang dikelola Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat dengan menyerahkan delapan unit kendaraan motor sampah bagi delapan kelompok kerja di dua distrik tersebut. Menurut Kepala BLH setempat, dengan bantuan kendaraan motor sampah, nantinya akan memudahkan keterlibatan warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih, dan upaya ini juga diyakinkan akan membantu instansi terkait, karena warga tidak lagi membuang sampah ke pinggiran ruas jalan tetapi cukup dengan meletakan sampah di depan rumah.

Tidak hanya warga tersebut, sedikitnya 3.000-an pelajar SD hingga SMA/SMK serta kalangan pegawai Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengikuti program Jumat Pagi Bersih Lingkungan (Jumpa Berlin) dalam upaya mewujudkan kota yang bersih, hijau dan sehat. Kalangan pelajar berbagai jenjang pendidikan, pada hari Jumat sejak pukul 07.00 WIT bergerak dari lingkungan sekolah menuju lokasi jalan-jalan strategis kota Biak untuk membersihkan lingkungan dan memungut serta mengangkut sampah di pinggiran jalan. Di berbagai lokasi di Biak di antaranya Jalan Majapahit, Sorido, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, Pramuka, Ahmad Yani, Yos Sudarso serta kawasan Condonegoro dipenuhi pelajar yang tengah membersihkan lingkungan. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Biak Numfor RZ Mailoa mengatakan “Jumpa Berlin” merupakan salah satu program pemkab untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman.

Last but not least, Pemerintah Kota Biak, Marthen Wompere mengatakan, sedang malakukan pekerjaan pembangunan fisik fasilitas Tempat  Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Diharapkan jika bangunan ini selesai akan dikelola masyarakat untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Biak. Fasilitas bangunan TPST dengan ukuran 15 X 10 meter ini merupakan salah satu program percontohan pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di TPST, merupakan sistem penanganan sampah yang direncanakan, disusun, dioperasikan, dikelola serta dimiliki masyarakat tujuan pengelolaan berbasis masyarakat dalam upaya mempertahankan kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan prinsip partisipasi masyarakat, kemandirian, efisiensi, perlindungan lingkungan serta keterpaduan. Melalui fasilitas bangunan fisik TPST ini masyarakat dapat mengelola sampah dengan 3 R, yakni reduce (mengurangi), reuce (pakai ulang) serta recycle (daur ulang) supaya bernilai ekonomis dan mendatangkan pendapatan masyarakat secara mandiri.

Untuk mewujudkan Biak yang bersih dan nyaman, diperlukan partisipasi masyarakat, pelajar, karyawan swasta, PNS serta berbagai elemen masyarakat sehingga lingkungan kota Biak tetap bersih, indah, rapi dan nyaman.

Sumber:




Daftar Penelusuran Kota Melalui Provinsi




Wednesday, November 19, 2014

10. Pemanasan Global

Day by day
Second by second
Hordes of heat falling on earth
Poles that slowly begins to melt
Atmosphere thinning

Global warming
Routine disaster on earth like this
Act of millions of people who do not care
Green forest into buildings elite
The sea and the sky filled with air pollution

My world was destroyed
Will my earth go back?
Like occupation of yourself



Hari demi hari
Detik demi detik
Gerombolan panas jatuh menimpa bumi
Kutub-kutub yang perlahan mulai mencair
Atmosfir yang mulai menipis

Global warming
Bagai bencana rutin di bumi ini
Ulah jutaan manusia yang tak peduli
Hutan hijau menjadi gedung-gedung elit
Laut dan langit dipenuhi polusi udara

Duniaku dirusak
Akankah bumiku kembali?

Bagaikan penjajahan diri sendiri

9. Pendapat Mengenai Studi Kasus "Apa yang Harus Dilakukan oleh Indonesia untuk Beradaptasi dengan Dampak Ekstrim Pemanasan Global

Adaptability needs to be supported by governments and environmental organizations, to provide knowledge to the public about the impacts of global warming. The role of communities around the site in the implementation of adaptation strategies for local communities also need to be considered because it is important. Adapt in the face of climate change, both in terms of economic activity, but especially in terms of policy-making related to climate change. Also needed once the role of the caliphs earth so extreme impact that we feel is not sustainable or better-reduced.


Kemampuan adaptasi perlu didukung oleh pemerintah dan organisasi lingkungan, dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai berbagai dampak pemanasan global tersebut.  Peranan masyarakat sekitar lokasi dalam pelaksanaan strategi adaptasi ke masyarakat local juga perlu diperhatikan karena merupakan hal yang penting. Beradaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim, baik dari segi kegiatan ekonomi, namun khususnya dalam hal pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan iklim. Juga dibutuhkan sekali peran para khalifah muka bumi ini agar dampak ekstrim yang kita rasakan tidak berkelanjutan ataupun lebih baiknya berkurang.

8. Pendapat Mengenai Studi Kasus "Dampak Pemanasan Global Tak Bisa Diperbaiki"

I think global warming is already happening, because all of this is the impact of human activities is not responsible for caring for the earth. The impact of global warming there are also some that can not be fixed as the retreat of glaciers and snow, thinning sea ice in polar and so on. It is hard to fix, but at least we have to minimize the impact. The only way to fix the earth from global warming impact of this is that there is a real effort and participation of all sectors of society to cope with and prevent it.


Menurut saya, pemanasan global saat ini sudah terjadi, karena semua ini adalah dampak dari kegiatan manusia yang tidak bertanggung jawab untuk merawat bumi ini. Dampak dari pemanasan global juga ada beberapa yang tidak dapat diperbaiki seperti berkurangnya gletser dan salju, menipisnya lautan di es kutub dan sebagainya. Memang sulit untuk memperbaikinya, tetapi setidaknya kita harus meminimalisir dampak tersebut. Satu-satunya cara untuk memperbaiki bumi dari dampak pemanasan global ini adalah adanya upaya nyata dan partisipasi semua lapisan masyarakat untuk menanggulangi dan mencegahnya.

7. Alternatif Untuk Mengantisipasi Dampak Kenaikan Muka Air Laut

  • Relocation; This alternative was developed when the economic and environmental impacts due to sea level rise and flooding so great that cultivated area need to be shifted more away from the coastline. In extreme conditions, in fact, should be considered to avoid at all areas which have a very high vulnerability.

  • Accommodation; This alternative is natural changes or adjustments to the risk of impact that may occur such as reclamation, building elevation or changes in agriculture into brackish water farming (aquaculture); inundated areas is inevitable, but is not expected to pose a serious threat to the safety of life, assets and socio-economic activities and the environment.

  • Protection; This alternative has two possibilities, namely that are hard structures such as the construction of retaining wave (breakwater) or dams (seawalls) and which are soft structures such as mangrove revegetation or stockpiling of sand (beach nourishment). Although tend defensive against natural changes, this alternative needs to be done carefully by considering the natural processes that occur in accordance with the principle of "working with nature"



  • Relokasi ; alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.

  • Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.

  • Proteksi ;  alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”

6. Dampak Kenaikan Muka Air Laut

1. The increased frequency and intensity of floods.
2. Changes in ocean currents
3. Widespread seawater intrusion
4. Threats terhadsp socio-economic activities
5. Reduced land area


1. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
2. Perubahan arus laut
3. Meluasnya intrusi air laut
4. Ancaman terhadsp kegiatan sosial ekonomi
5. Berkurangnya luas daratan
 

Template by BloggerCandy.com